Jumat, 14 September 2007

BERSABAR TERHADAP UJIAN









Sabar adalah kata yang sudah tidak asing lagi kita dengar sehari-hari. Biasanya sabar ditujukan bagi orang yang sedang mendapat kesusahan atau bencana. Di dalam Al-Qur’an kata sabar sering sekali ditemukan. Namun sabar yang dibicarakan Al-Qur’an tidak sesederhana yang diketahui oleh kebanyakan orang.



Dalam Al-Qur’an sabar adalah sebuah pertolongan saat kesulitan, karena dengan bersabar tanpa tergesa-gesa seseorang dapat berfikir jernih dan menemukan jalan keluar dari kesulitan. Dia juga merupakan syarat untuk mendapat kesenangan, kemenangan, dan keberuntungan. Sabar juga adalah benteng dari kefakiran karena orang yang sabar dalam mencari penghasilan lebih berpeluang untuk sukses sedangkan orang yang tidak sabar dan mudah menyerah sudah pasti gagal.



Setiap manusia pasti mendapat ujian dari Allah. Ujian yang diberikan Allah keada manusia merupakan alat penilaian yang adakalanya Allah saja yang menilai dan terkadang ia nampakkan hasil ujian tersebut kepada manusia lainnya. Hanya orang yang sabarlah yang dapat bertahan dan mendapat hasil positif dari ujian yang diberikan Allah kepadanya. Sebaliknya, orang yang tidak sabar akan menjadi hina baik terlihat atau tidak.



وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّى نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنْكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَ أَخْبَارَكُمْ.


Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu; dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu. (Muhammad: 31)



Sabar ada dua, yaitu sabar terhadap apa yang dibenci, dan sabar terhadap apa yang dicintai. Sabar terhadap apa yang dibenci adalah sabar menghadapi ujian berupa bencana, kesulitan hidup, kekurangan, dan kesengsaraan. Bagi setiap bencana pasti ada batas yang berakhir padanya, sedangkan obatnya adalah sabar terhadapnya. Allah berfirman:


وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ.
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar,(Al-Baqarah:155)



Sabar terhadap apa yang dicintai adalah menahan diri dari kenikmatan dan keindahan yang dilarang Allah atau berpotensi membuat lalai dari mengingat Allah. Orang yang sabar akan meninggalkan tokonya yang ramai pembeli untuk melaksanakan sholat Jum’at. Orang sabar juga akan menjauhkan diri dari sesuatu yang syubhat meskipun berupa hidangan lezat yang tersedia di restoran mewah.


Dalam menjalankan ibadah, perjuangan, dan pengabdian di jalan Allah sabar adalah penentu diterima atau tidaknya semua itu oleh Allah. karena sabar merupakan buah dari ikhlas dan kehusyukan seseorang menjalani ibadah.
Para sahabat nabi diperingatkan Allah untuk sabar dalam masa-masa sulit sebelum pembebasan Makkah.



يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ.


Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.(Ali Imran: 200)



Di saat manusia mulai merasa jauh dari Tuhannya, sabar yang bersanding dengan sholat khusyuk adalah alat untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Dengan sabar seseorang memahami eksistensinya sebagai hamba yang memperoleh nikmat yang banyak. Kesabaran yang teguh akan memadamkan api nafsu yang berpotensi menjadikan manusia lupa dari Tuhannya.


يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ.


Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.(Al-Baqarah: 153)



Imam Ali berkata, buanglah darimu segala kesusahan yang menimpamu dengan kesabaran yang teguh dengan keyakinan yang baik. Seandainya kesabaran berbentuk seorang laki-laki, pasti dia adalah seorang laki-laki yang saleh.


Untuk itu, marilah kita belajar untuk bersabar terhadap segala ketentuan Allah dan bersabar dalam berjuang di jalan Allah.

BERTAWAKAL TERHADAP SEGALA URUSAN



إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ ءَايَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ.
Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal,(Al-Anfaal:2)
Seseorang telah memasukkan sepeda motornya ke dalam garasi dan menguncinya dengan tiga buah kunci pengaman. Pagi harinya ketika dia bangun, garasinya sudah dibobol dan sepeda motornya raib. Orang itu sudah berusaha, tetapi Allah berkata lain. Hari itu dia harus merelakan miliknya berpindah tangan.
Orang yang tidak percaya adanya ketentuan Allah akan mencari-cari dimana letak kesalahannya dan siapa yang begitu sembrono sehingga pencuri bisa masuk ke rumahnya. Dia mulai mencari hansip yang menjaga portal komplek rumahnya dan memaki-maki anjing peliharaannya karena tidak menggonggong saat ada pencuri.
Orang yang bertawakal melaporkannya kepada polisi dan segera berucap “bila ia masih milikku ia akan kembali padaku”. Ia segera bersiap untuk melanjutkan aktivitas hariannya tanpa mencari-cari siapa yang salah. Skap ini merupakan aplikasi dari firman Allah:

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَسَبِّحْ بِحَمْدِهِ وَكَفَى بِهِ بِذُنُوبِ عِبَادِهِ خَبِيرًا.
Dan bertawakkallah kepada Allah Yang Hidup (Kekal) Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya, (Al-Furqan:58)
Ada sebuah anekdot sufi, yaitu ketika murid-murid Nasrudin Hoja melaporkan kepada gurunya bahwa keledainya telah hilang, Nasrudin berkata “Alhamdulillah”. Murid-muridnya pun bertanya dengan heran kenapa Mullahnya bicara seperti itu. Nasrudin menjawab “Bersyukurlah pada Allah karena aku tidak berada diatas keledai itu, jika aku diatasnya tentu aku juga hilang bersamanya”.
Ini memang sebuah guyonan, tetapi didalamnya ada hikmah bahwa tawakalnya Nasrudin menggembirakan dirinya dan murid-muridnya daripada merasa kehilangan, marah, dan tak dapat lagi berfikir jernih. Sesuatu yang hilang ada dua kemungkinan, kembali atau tidak kembali, tergantung apakah Allah masih menakdirkannya sebagai milik kita atau tidak.
Tawakal adalah sikap diri dimana seorang hamba menyerahkan segala urusannya secara totalitas kepada pemelihara dirinya Yang tidak tidur dan Yang terus-menerus mengurus makhlukNya. Maka wujud tawakal tersebut dapat kita temukan dalam ayat kursi yang menceritakan kekuasaan dan penjagaan Allah terhadap semua ciptaannya.

اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ.
Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa`at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (Al-Baqarah: 255)

Tawakkal membahkan keyakinan yang teguh bahwasanya Allah pasti memberi yang terbaik pada kita. Sikap tawakal ini merupakan motivator yang ampuh untuk menjadikan orang Islam sebagai ummat yang kuat dan berwibawa. Kenapa? Karena Allah menyesuaikan diri tehadap prasangka hambaNya kepadaNya. Hamba yang tawakal merasa yakin terhadap keberpihakan Allah kepadanya, maka Allah yang menjadi pelindung dirinya dan menjadi penyampai tujuannya.

قَالَ رَجُلَانِ مِنَ الَّذِينَ يَخَافُونَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمَا ادْخُلُوا عَلَيْهِمُ الْبَابَ فَإِذَا دَخَلْتُمُوهُ فَإِنَّكُمْ غَالِبُونَ وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ.
Berkatalah dua orang di antara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi ni`mat atas keduanya: "Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman". (Al-Maidah: 23)

Imam Nawawi Al-Bantany dalam kitabnya Qaami’u Al-Tughyaan, membagi tawakal dalam tiga derajat. Pertama, keadaan tawakal dalam kebenaran Allah dan dalam meyakini tanggung jawab dan pertolongan Allah seperti halnya ia percaya terhadap orang yang dipasrahi. Kedua, keadaan tawakal beserta Allah Ta’ala seperti seorang anak kecil dalam hak ibunya, maka anak kecil itu tak pernah mengenal selain ibunya dan ia tidak berlindung selain kepada ibunya, dan ia tidak pernah bergantung kepada selain ibunya. Jika mia melihat ibunya ia akan bergantung kepada ibunya dalam segala hal, dan jika ia melihat sesuatu akan menyakitinya saat ibunya tidak ada maka ucapan yang pertama terlontar dari lidahya adalah “aduh ibu”, dan pertama kekhawatiran yang terlintas dalam benaknya adalah ibunya, maka sesungguhnya ia percaya dengan tanggug jawab dan kasih sayang ibunya dengan kepercayaan yang penuh.
Ketiga, keadaan tawakal di seputar kekuasaan Allah dalam setiap gerak dan diamnya, seperti mayit di depan orang yang memandikannya, yang ia tidak dapat melepaskan diri darinya. Ia menyadari bahwa dirinya hanyalah mayit yang digerakkan oleh kekuatan azali sebagaimana tangan-tangan pemandi mayit menggerakkan mayit. Orang ini adalah orang yang kuat imannya, karena ia yakin Allah Ta’alalah yang menjalankan semua gerakan. Inilah derajat yang paling tinggi. Yang pertama lebih rendah dan yang kedua lebih tinggi dari derajat wali.
Tawakal adalah modal kebahagiaan. Ia mampu melawan stres yang lahir dari kekecewaan dan ketidakpuasan. Sikap ini merupakan senjata yang diberikan Allah untuk menembus batas langit dan bumi karena orang yang bertawakal senantiasa optimis mampu melakukan segalanya selama Allah berpihak padanya. Ia tak pernah merasa takut terhadap apapun karena keyakinan yang teguh bahwa dirinya berada dalam genggaman Allah.
Semoga kita semua dapat menjadi bagian dari orang-orang bertawakal, orang yang Allah berpihak kepadanya dalam segala urusan.

قَالَتْ لَهُمْ رُسُلُهُمْ إِنْ نَحْنُ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَمُنُّ عَلَى مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَمَا كَانَ لَنَا أَنْ نَأْتِيَكُمْ بِسُلْطَانٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ.
Rasul-rasul mereka berkata kepada mereka: "Kami tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, akan tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dan tidak patut bagi kami mendatangkan suatu bukti kepada kamu melainkan dengan izin Allah. Dan hanya kepada Allah sajalah hendaknya orang-orang mukmin bertawakkal. (Ibrahim: 11)

PEMANDANGAN DI MASJID NABI

PERHATIKAN KEINDAHAN ARSITEKTUR BANGUNAN INI!!!
SUBHAANALLAAH!!! BETAPA HEBAT KARUNIA AKAL YANG DIBERIKAN ALLAH KEPADA MANUSIA!!




Sabtu, 08 September 2007

ZUHUD TERHADAP DUNIA


oleh : Ust. Muamar el-Bantany, SHI.


Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanaman tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berfikir. (Yuunus:24)

Kata zuhud saat ini sudah banyak diperdengarkan oleh para muballigh dalam acara-acara siraman ruhani di televisi. Kebanyakan orang mendefinisikan zuhud sebagai hidup sederhana. Yang lebih ekstrim seperti beberapa terekat mengaplikasikan zuhud dengan hidup miskin dan tidak berambisi kaya.



Imam Ali bin Abi Thalib telah mendefinisikan zuhud sebagai berikut: “Zuhud seluruhnya terdapat di antara dua kalimat dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman:
(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri, (Al-Hadiid: 23)


Maka, barang siapa yang tidak berduka atas apa yang telah lewat, dan tidak terlalu bergembira dengan apa yang didapat, dia telah mengambil zuhud dalam kdua sisinya (secara sempurna. Tidak akan binasa orang yang hemat dan tidak akan menjadi miskin orang yang zuhud. Zuhud adalah kekayaan, orang yang zuhud terhadap dinar dan dirham adalah lebih mulia dari dinar dan dirham”.


Dari definsi imam Ali tersebut sudah jelas bahwa zuhud bukan berarti tidak boleh kaya. Zuhud adalah tidak menjadikan dunia dan seisinya sebagai tujuan hidup tetapi sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Tanpa harta yang cukup bagaimana seseorang bisa berzakat dan menunaikan ibadah haji. Semua itu perlu ditopang dengan ekonomi yang mapan.
Mencintai perhiasan dunia adalah fitrah manusia. Allah menggambarkan kecintaan mereka seperti yang dikemukakan dalam firman-Nya:


Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (ali Imran: 14)
Namun di dalam ayat lain Allah menegaskan bahwa yang terpenting dunia itu jangan menjadi harapan. Hanya Allah saja yang berhak menjadi tujuan hati dan harapan.

Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan. (Al-Kahfi: 46)


Sahabat Jabir bin Abdillah berkata: “saya sedang bersama-sama Rasulullah SAW, tiba-tiba datanglahseorang laki-laki yang berwajah bersih, rambutnya bagus tersusun rapi dan pakaiannya putih, dia berkata: “Assalamu ‘alaika ya Rasulallah, apa itu dunia?” Beliau menjawab: “Dunia itu seperti mimpinya orang tidur”. Lalu ia bertanya lagi: “Apa itu akhirat”. Jawab beliau: “Satu golongan di dalam surga dan satu golongan di neraka Sa’ir”. Ia pun bertanya lagi: Apa itu surga?” Jawab beliau: “surga itu gantinya dunia bagi yang meninggalkan dunia”. Lalu apa itu neraka Jahannam? Beliau menjawab: “Jahannam itu gantiya dunia bagi orang-orang yang mengejarnya”. Jabir berkata setelah laki-laki tersebut meninggalkan kami. Rasulullah berkata: “Dia adalah Jibril, datang kepada kalian untuk mengajarkan zuhud”.
Pengertian zuhud yang paling menyeluruh adalah sabda Nabi Muhammad: “zuhud terhadap masalah dunia bukan berarti mengharamkan barang yang halal dan bukan pula menyia-nyiakan harta benda, tetapi zuhud terhadap masalah dunia adalah jika engkau lebih meyakini apa yang ada ditangan Allah dari apa-apa yang ada di tanganmu dan jika ada musibah yang menimpamu, maka pahala musibah itu lebih engkau sukai daripada engkau tidak ditimpa musibah sama sekali. (HR. Turmudzi)


Secara tegas zuhud adalah menghindari sikap yang digambarkan dalam surat At-Takatsur:

Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan `ainul yaqin, kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu). (At-Takatsur)
Silahkan mencari kekayaan sebanyak-banyaknya, tetapi jangan sampai melalaikan dari Allah. Yang harus dipertegas adalah kekaaan duiawi yang dimiliki tidak boleh sampai menjadikan kita orang yang bermegah-megahan, sombong, dan berjalan dengan keangkuhan.

Jumat, 07 September 2007

TAUBAT SEBAGAI KEBUTUHAN

oleh: Ust. Muamar el_Bantany, SHI.


Dalam kehidupan, manusia tak dapat luput dari yang namanya kesalahan. Ada kesalahan (dosa) vertikal kepada Allah. ada juga dosa horizontal kepada manusia dan sesama makhluk Allah.
Sering kali kita secara tak sadar, entah dalam canda, berfikir, berdiskusi, beribadah, berdoa melakukan dosa kepada Allah dan makhlukNya. Dalam canda hati menjadi lalai, dalam berfikir terkadang kita melampaui batas, dalam diskusi kita megeluarkan kata yang kasar dan menghujat, dalam beribadah ada riya dan tidak khusyu, dan dalam berdoa kita lupa adab dan tergesa-gesa. Manusia tak bisa lepas dari kesalahan walau hanya sebesar dzarrah, maka taubat dan istighfar amat diperlukan.
Taubat adalah perintah Allah dan Rasul Nya. Manusia secara totalitas tidak layak masuk syurga karena segala kebaikan yang dikumpulkan sebaik-baik manusia tidaklah sebanding dengan nikmat Allah yang dikaruniakan kepadanya. Ibadah yang dikumpulkan sseorang selama hidupnya hanya sebagai pembuktian bahwa dirinya menyerah kepada ketetapan Allah
وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ.

Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (An-Nuur: 31)
اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ

dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Huud : 3)

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ يَوْمَ لَا يُخْزِي اللَّهُ النَّبِيَّ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا مَعَهُ نُورُهُمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.

Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengan dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: "Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu". (At-Tahrim : 8)

Ucapan taubat secara sederhana adalah dengan melafalkan istighfar kepada Allah. namun bukan sekedar ucapan belaka. Pernah seseorang di adapan Imam Ali mengucapkan “Astaghfirullah”, maka imam Ali berkata padanya, “semoga ibumu meratapi kematianmu. Tahukah kamu apa istighfar itu? Istighfar adalah derajat orang-orang yang tinggi kedudukannya. Ia adalah nama yang terkandung pada enam makna.
Pertama, penyesalan yang telah lalu. Kedua, bertekad untuk tidak kembali ke perbuatan dosa itu selamanya. Ketiga, mengembalikan hak orang lain yag diambilnya sehigga kamu berjumpa dengan Allah dalam keadaan terlepas dari tuntutan seorang pun. Keempat, hendaklah kamu memperhatikan setiap kewajiban atasmu yang sebelumnya telah kamu sia-siakan sehingga kamu dapat memenuhi kewajiban itu.
Kelima, hendaklah kamu perhatikan daging yang tumbuh dari hasil yang haram, lalu kamu kuruskan dia dengan kesedihan sehingga kulit menempel pada tulang, lalu tumbuh diantaranya daging yang baru. Dan keenam, hendaklah kamu rasakan badanmu dengan sakitnya ketaatan, sebagaimana kamu telah merasakannya dengan manisnya kemaksiatan. Maka, ketika itulah kamu layak mengucapkan, “Astaghfirullah”.
Rasulullah SAW beristighfar dalam satu hari tak kurang dari seratus kali. Padahal beliau telah disucikan hati, perbuatan, dan ucapannya oleh Allah. Malaikat Jibril pun senantiasa ada di sampingnya untuk menuntun setiap perbuatan yang dilakukannya. Beliau SAW sadar bahwa apa yang dilakukannya baik kebaikan atau ibadah di dunia ini tidak sebanding dengan karunia Allah kepadanya.
Tidak ada pemberi syafaat yang lebih berhasil selain taubat. pemberi syafaat bagi orang yang berdosa itu adalah pegakuan atas dosa itu, sedangkan taubatnya adalah dengan memohon ampunan.
Imam Ali mengajarkan kepada kita semua sebuah do’a untuk memohon ampun kepada Allah SWT:
Ya Allah, tunjukanlah kepadaku kebaikan-kebaikanku dan bimbinglah aku pada jalan yang lurus. Ya Allah perlakukan aku dengan ampunan-Mu, dan janganlah perlakukan aku dengan keadilan-Mu.
Ya Allah sesungguhnya dosa-dosaku ini tidak merugikan-Mu, dan curakan rahmatmu kepadaku tidak mengurangi-Mu, maka ampunilah aku apa yang tidak merugikan-Mu, dan karunialilah aku apa yang tidak memberi keuntungan bagi-Mu.
Ya Allah, curahkanlah waktuku untuk memenuhi tujuan penciptaanku, dan janganlah Engkau sibukkan diriku darinya karea sesungguhnya Engkau telah menjamin bagiku dengannya. Janganlah Engkau tolak aku, padahal aku memohon kepada-Mu, dan jangan pula Engkau siksa aku, padahal aku memohon ampun kepada-Mu.
Ya Allah ampunilah isyarat lirikan mata, ketergelinciran ucapan, nafsu hati, dan kekeliruan lidah.
Marilah kita sama-sama bertaubat kepada Allah dengan menyesali kejahatan dan dosa yang telah lalu, berikrar untuk tidak mengulanginya lagi, dan memperbaiki diri dengan mengabdi pada Allah dan berbuat baik pada semua makhluk.