إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ ءَايَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ.
Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal,(Al-Anfaal:2)
Seseorang telah memasukkan sepeda motornya ke dalam garasi dan menguncinya dengan tiga buah kunci pengaman. Pagi harinya ketika dia bangun, garasinya sudah dibobol dan sepeda motornya raib. Orang itu sudah berusaha, tetapi Allah berkata lain. Hari itu dia harus merelakan miliknya berpindah tangan.
Orang yang tidak percaya adanya ketentuan Allah akan mencari-cari dimana letak kesalahannya dan siapa yang begitu sembrono sehingga pencuri bisa masuk ke rumahnya. Dia mulai mencari hansip yang menjaga portal komplek rumahnya dan memaki-maki anjing peliharaannya karena tidak menggonggong saat ada pencuri.
Orang yang bertawakal melaporkannya kepada polisi dan segera berucap “bila ia masih milikku ia akan kembali padaku”. Ia segera bersiap untuk melanjutkan aktivitas hariannya tanpa mencari-cari siapa yang salah. Skap ini merupakan aplikasi dari firman Allah:
وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَسَبِّحْ بِحَمْدِهِ وَكَفَى بِهِ بِذُنُوبِ عِبَادِهِ خَبِيرًا.
Dan bertawakkallah kepada Allah Yang Hidup (Kekal) Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya, (Al-Furqan:58)
Ada sebuah anekdot sufi, yaitu ketika murid-murid Nasrudin Hoja melaporkan kepada gurunya bahwa keledainya telah hilang, Nasrudin berkata “Alhamdulillah”. Murid-muridnya pun bertanya dengan heran kenapa Mullahnya bicara seperti itu. Nasrudin menjawab “Bersyukurlah pada Allah karena aku tidak berada diatas keledai itu, jika aku diatasnya tentu aku juga hilang bersamanya”.
Ini memang sebuah guyonan, tetapi didalamnya ada hikmah bahwa tawakalnya Nasrudin menggembirakan dirinya dan murid-muridnya daripada merasa kehilangan, marah, dan tak dapat lagi berfikir jernih. Sesuatu yang hilang ada dua kemungkinan, kembali atau tidak kembali, tergantung apakah Allah masih menakdirkannya sebagai milik kita atau tidak.
Tawakal adalah sikap diri dimana seorang hamba menyerahkan segala urusannya secara totalitas kepada pemelihara dirinya Yang tidak tidur dan Yang terus-menerus mengurus makhlukNya. Maka wujud tawakal tersebut dapat kita temukan dalam ayat kursi yang menceritakan kekuasaan dan penjagaan Allah terhadap semua ciptaannya.
اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ.
Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa`at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (Al-Baqarah: 255)
Tawakkal membahkan keyakinan yang teguh bahwasanya Allah pasti memberi yang terbaik pada kita. Sikap tawakal ini merupakan motivator yang ampuh untuk menjadikan orang Islam sebagai ummat yang kuat dan berwibawa. Kenapa? Karena Allah menyesuaikan diri tehadap prasangka hambaNya kepadaNya. Hamba yang tawakal merasa yakin terhadap keberpihakan Allah kepadanya, maka Allah yang menjadi pelindung dirinya dan menjadi penyampai tujuannya.
قَالَ رَجُلَانِ مِنَ الَّذِينَ يَخَافُونَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمَا ادْخُلُوا عَلَيْهِمُ الْبَابَ فَإِذَا دَخَلْتُمُوهُ فَإِنَّكُمْ غَالِبُونَ وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ.
Berkatalah dua orang di antara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi ni`mat atas keduanya: "Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman". (Al-Maidah: 23)
Imam Nawawi Al-Bantany dalam kitabnya Qaami’u Al-Tughyaan, membagi tawakal dalam tiga derajat. Pertama, keadaan tawakal dalam kebenaran Allah dan dalam meyakini tanggung jawab dan pertolongan Allah seperti halnya ia percaya terhadap orang yang dipasrahi. Kedua, keadaan tawakal beserta Allah Ta’ala seperti seorang anak kecil dalam hak ibunya, maka anak kecil itu tak pernah mengenal selain ibunya dan ia tidak berlindung selain kepada ibunya, dan ia tidak pernah bergantung kepada selain ibunya. Jika mia melihat ibunya ia akan bergantung kepada ibunya dalam segala hal, dan jika ia melihat sesuatu akan menyakitinya saat ibunya tidak ada maka ucapan yang pertama terlontar dari lidahya adalah “aduh ibu”, dan pertama kekhawatiran yang terlintas dalam benaknya adalah ibunya, maka sesungguhnya ia percaya dengan tanggug jawab dan kasih sayang ibunya dengan kepercayaan yang penuh.
Ketiga, keadaan tawakal di seputar kekuasaan Allah dalam setiap gerak dan diamnya, seperti mayit di depan orang yang memandikannya, yang ia tidak dapat melepaskan diri darinya. Ia menyadari bahwa dirinya hanyalah mayit yang digerakkan oleh kekuatan azali sebagaimana tangan-tangan pemandi mayit menggerakkan mayit. Orang ini adalah orang yang kuat imannya, karena ia yakin Allah Ta’alalah yang menjalankan semua gerakan. Inilah derajat yang paling tinggi. Yang pertama lebih rendah dan yang kedua lebih tinggi dari derajat wali.
Tawakal adalah modal kebahagiaan. Ia mampu melawan stres yang lahir dari kekecewaan dan ketidakpuasan. Sikap ini merupakan senjata yang diberikan Allah untuk menembus batas langit dan bumi karena orang yang bertawakal senantiasa optimis mampu melakukan segalanya selama Allah berpihak padanya. Ia tak pernah merasa takut terhadap apapun karena keyakinan yang teguh bahwa dirinya berada dalam genggaman Allah.
Semoga kita semua dapat menjadi bagian dari orang-orang bertawakal, orang yang Allah berpihak kepadanya dalam segala urusan.
قَالَتْ لَهُمْ رُسُلُهُمْ إِنْ نَحْنُ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَمُنُّ عَلَى مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَمَا كَانَ لَنَا أَنْ نَأْتِيَكُمْ بِسُلْطَانٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ.
Rasul-rasul mereka berkata kepada mereka: "Kami tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, akan tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dan tidak patut bagi kami mendatangkan suatu bukti kepada kamu melainkan dengan izin Allah. Dan hanya kepada Allah sajalah hendaknya orang-orang mukmin bertawakkal. (Ibrahim: 11)