Sabtu, 08 September 2007

ZUHUD TERHADAP DUNIA


oleh : Ust. Muamar el-Bantany, SHI.


Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanaman tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berfikir. (Yuunus:24)

Kata zuhud saat ini sudah banyak diperdengarkan oleh para muballigh dalam acara-acara siraman ruhani di televisi. Kebanyakan orang mendefinisikan zuhud sebagai hidup sederhana. Yang lebih ekstrim seperti beberapa terekat mengaplikasikan zuhud dengan hidup miskin dan tidak berambisi kaya.



Imam Ali bin Abi Thalib telah mendefinisikan zuhud sebagai berikut: “Zuhud seluruhnya terdapat di antara dua kalimat dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman:
(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri, (Al-Hadiid: 23)


Maka, barang siapa yang tidak berduka atas apa yang telah lewat, dan tidak terlalu bergembira dengan apa yang didapat, dia telah mengambil zuhud dalam kdua sisinya (secara sempurna. Tidak akan binasa orang yang hemat dan tidak akan menjadi miskin orang yang zuhud. Zuhud adalah kekayaan, orang yang zuhud terhadap dinar dan dirham adalah lebih mulia dari dinar dan dirham”.


Dari definsi imam Ali tersebut sudah jelas bahwa zuhud bukan berarti tidak boleh kaya. Zuhud adalah tidak menjadikan dunia dan seisinya sebagai tujuan hidup tetapi sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Tanpa harta yang cukup bagaimana seseorang bisa berzakat dan menunaikan ibadah haji. Semua itu perlu ditopang dengan ekonomi yang mapan.
Mencintai perhiasan dunia adalah fitrah manusia. Allah menggambarkan kecintaan mereka seperti yang dikemukakan dalam firman-Nya:


Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (ali Imran: 14)
Namun di dalam ayat lain Allah menegaskan bahwa yang terpenting dunia itu jangan menjadi harapan. Hanya Allah saja yang berhak menjadi tujuan hati dan harapan.

Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan. (Al-Kahfi: 46)


Sahabat Jabir bin Abdillah berkata: “saya sedang bersama-sama Rasulullah SAW, tiba-tiba datanglahseorang laki-laki yang berwajah bersih, rambutnya bagus tersusun rapi dan pakaiannya putih, dia berkata: “Assalamu ‘alaika ya Rasulallah, apa itu dunia?” Beliau menjawab: “Dunia itu seperti mimpinya orang tidur”. Lalu ia bertanya lagi: “Apa itu akhirat”. Jawab beliau: “Satu golongan di dalam surga dan satu golongan di neraka Sa’ir”. Ia pun bertanya lagi: Apa itu surga?” Jawab beliau: “surga itu gantinya dunia bagi yang meninggalkan dunia”. Lalu apa itu neraka Jahannam? Beliau menjawab: “Jahannam itu gantiya dunia bagi orang-orang yang mengejarnya”. Jabir berkata setelah laki-laki tersebut meninggalkan kami. Rasulullah berkata: “Dia adalah Jibril, datang kepada kalian untuk mengajarkan zuhud”.
Pengertian zuhud yang paling menyeluruh adalah sabda Nabi Muhammad: “zuhud terhadap masalah dunia bukan berarti mengharamkan barang yang halal dan bukan pula menyia-nyiakan harta benda, tetapi zuhud terhadap masalah dunia adalah jika engkau lebih meyakini apa yang ada ditangan Allah dari apa-apa yang ada di tanganmu dan jika ada musibah yang menimpamu, maka pahala musibah itu lebih engkau sukai daripada engkau tidak ditimpa musibah sama sekali. (HR. Turmudzi)


Secara tegas zuhud adalah menghindari sikap yang digambarkan dalam surat At-Takatsur:

Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan `ainul yaqin, kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu). (At-Takatsur)
Silahkan mencari kekayaan sebanyak-banyaknya, tetapi jangan sampai melalaikan dari Allah. Yang harus dipertegas adalah kekaaan duiawi yang dimiliki tidak boleh sampai menjadikan kita orang yang bermegah-megahan, sombong, dan berjalan dengan keangkuhan.